FEB Universitas Widyatama Bahas Penguatan Implementasi Kurikulum OBE dan Kebijakan Penilaian

Bandung, 7 Oktober 2026 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Widyatama menggelar rapat pembahasan implementasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), serta kebijakan penilaian. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 7 Oktober 2026, bertempat di Ruang Rapat FEB dan dihadiri oleh struktural di lingkungan FEB Universitas Widyatama.

Pembahasan diawali dengan penekanan pentingnya pengukuran CPL dalam implementasi kurikulum OBE. Dekan FEB menyampaikan bahwa pengukuran CPL perlu dilakukan berdasarkan aktivitas pembelajaran atau activity-based assessment. Untuk itu, fakultas dan program studi perlu memiliki kebijakan yang mengatur mekanisme pengukuran CPL secara jelas, sistematis, dan terintegrasi.

Dalam rapat tersebut juga dibahas praktik pengukuran CPL yang telah dilakukan oleh Program Studi Manajemen S1. Oliver Hasan Padmanegara, S.E., M.Sc menyampaikan pengalaman Prodi Manajemen S1 dalam melakukan pengukuran CPL menggunakan SIAKAD baru. Sebelumnya, mekanisme pengukuran CPL telah dikembangkan melalui penggunaan Microsoft Excel sebagai bagian dari upaya membangun sistem pengukuran capaian pembelajaran.

Penilaian Berbasis Aktivitas Pembelajaran

Salah satu fokus utama diskusi adalah bagaimana penerapan OBE dapat diterjemahkan ke dalam sistem penilaian yang mampu menggambarkan ketercapaian pembelajaran mahasiswa secara lebih komprehensif. IgnatiusOki Dewa Brata, S.E., M.Si., Ak., CA menyampaikan bahwa apabila pengukuran capaian pembelajaran dilakukan berbasis aktivitas, maka Sub-CPMK dapat diukur melalui berbagai aktivitas pembelajaran selama proses perkuliahan.

Sejalan dengan hal tersebut, rapat membahas kembali proporsi dan fungsi ujian dalam sistem penilaian. Berdasarkan ketentuan SN-Dikti yang menjadi rujukan dalam pembahasan, UAS masih diperlukan, sementara UTS tidak bersifat wajib. FEB selanjutnya akan mengkaji formulasi bobot UTS dan UAS dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing mata kuliah.

Dalam pembahasan juga muncul dua pendekatan dalam menentukan bobot penilaian. Pertama, pendekatan konvensional yang memberikan bobot tertentu terhadap komponen tugas, UTS, UAS, dan kehadiran. Kedua, pendekatan OBE yang mendistribusikan nilai berdasarkan ketercapaian seluruh Sub-CPMK melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan asesmen.

FEB tetap mempertahankan UTS, UAS, serta kehadiran mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan kelulusan mata kuliah. Adapun persyaratan kehadiran mahasiswa ditetapkan paling sedikit 80 persen.

Penyesuaian Model Pembelajaran

Selain sistem penilaian, rapat turut menyoroti pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh dosen. Dalam implementasinya, dosen dinilai masih cenderung menerapkan Student-Centered Learning (SCL) secara penuh. Ke depan, pendekatan pembelajaran diharapkan dapat lebih fleksibel dengan mempertimbangkan karakteristik mata kuliah, capaian pembelajaran, serta metode pembelajaran yang paling relevan.

Dengan demikian, penerapan pembelajaran tidak harus terpaku pada satu pendekatan secara murni, tetapi dapat dikembangkan secara adaptif agar aktivitas pembelajaran benar-benar mendukung ketercapaian CPL dan Sub-CPMK mahasiswa.

Rapat juga mencermati rumusan CPL berdasarkan Permendikbudristek Nomor 39 yang mencakup empat aspek utama, yaitu penguasaan IPTEK, kecakapan umum, dunia kerja dan sertifikasi, serta pembelajaran sepanjang hayat.

Penguatan Kebijakan OBE dan MBKM

Dalam rangka memastikan penerapan OBE berjalan seragam dan terarah, Dr. Syafrizal Ikram, S.E., M.Si., Ak., CA mengusulkan agar kebijakan implementasi OBE yang disusun di tingkat fakultas selanjutnya diselaraskan dengan kebijakan universitas. Penyelarasan tersebut dinilai penting untuk menciptakan keseragaman dalam penerapan OBE di lingkungan Universitas Widyatama.

Rapat juga membahas pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). FEB memandang perlu adanya panduan pelaksanaan MBKM di tingkat universitas yang secara khusus mengatur mekanisme pelaksanaan, komposisi, serta metode penilaian. Pengelolaan MBKM juga diharapkan dapat dilakukan secara lebih terpusat dan terkoordinasi.

Dalam pemilihan mitra MBKM, Bu Erly Sherlita, S.E., M.Si, menyampaikan bahwa mitra yang telah memiliki kerja sama atau MoU dengan universitas perlu menjadi prioritas. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal terhadap pencapaian pembelajaran sekaligus mendukung capaian dan akreditasi institusi.

Evaluasi terhadap pelaksanaan MBKM sebelumnya juga menjadi perhatian. Salah satu catatan yang muncul adalah pelaksanaan yang masih cenderung sporadis. Oleh karena itu, ke depan diperlukan pengelolaan MBKM yang lebih terstruktur, terkoordinasi, dan terintegrasi.

Menuju Implementasi OBE Secara Penuh

Rapat menyepakati bahwa skema ideal implementasi OBE perlu segera disusun dan disampaikan kepada sivitas akademika pada semester berjalan. Namun, implementasi pada semester ini masih berada dalam tahap penyesuaian. Target implementasi OBE secara penuh direncanakan mulai semester genap.

Dalam penyusunan kebijakan penilaian, program studi akan terlebih dahulu memformulasikan bobot UTS dan UAS dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing mata kuliah. Hasil formulasi tersebut selanjutnya akan menjadi bahan penyusunan kebijakan penilaian di tingkat fakultas.

Metode dan komposisi penilaian juga tidak diarahkan untuk dibuat seragam bagi seluruh mata kuliah. Penetapannya perlu mempertimbangkan karakteristik dan kelompok mata kuliah serta capaian pembelajaran yang hendak dicapai. Kelompok mata kuliah yang menjadi dasar pembahasan meliputi Mata Kuliah Kehidupan Bermasyarakat, Mata Kuliah Keahlian Berkarya (Hard Skill), Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (Praktikum), Mata Kuliah Perilaku Berkarya (Soft Skill), Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (Soft Skill), serta Mata Kuliah Ciri Universitas (MKCU) dan Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK).

Melalui rapat ini, FEB Universitas Widyatama menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat implementasi kurikulum berbasis OBE melalui pengukuran CPL yang lebih terstruktur, sistem penilaian yang selaras dengan capaian pembelajaran, serta pengembangan metode pembelajaran yang adaptif. Proses penyesuaian yang dilakukan pada semester berjalan diharapkan menjadi landasan bagi penerapan OBE secara lebih optimal dan terintegrasi mulai semester genap.

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp